[MEDAN] - POLDASU, JAM 16.00 WIB
NPS (15) warga Dusun VII Firdaus, Sei Rampah, Kabupaten Sergai) menangis setiba di Polda Sumut. Cewek yang baru menyelesaikan sekolahnya di bangku SMP Teladan Sei Rampah ini mengaku hendak menemui penyidik Subdit IV Renakta Dit Reskrimum Polda Sumut untuk menanyakan kasus pencabulan yang telah menimpa dirinya.
![]() |
| NPS (jilbab kuning) dan Christian Pramona Zebua |
Saat diwawancarai, remaja berjilbab kuning ini menyebut bahwa pelaku pencabulan itu adalah anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Sergai bernama Christian Pramona Zebua (22). “Kejadiannya Februari 2014 lalu om. Sekarang saya sudah melahirkan. Tapi kasusnya enggak jalan setelah saya lapor ke Polda,” kata korban menangis sesenggukan, Senin (9/3) sore.
Menurut korban, sebelum berpacaran dengan pelaku, korban dikenalkan oleh rekan satu sekolahnya. Sejak saat itu, pelaku pun menjalin hubungan dengan korban. “Awalnya dia jemput saya di sekolah. Rencana mau langsung pulang kerumah,” ujar korban.
Di tengah jalan, pelaku yang tengah berboncengan dengan korban melihat sekumpulan polisi yang tengah melakukan razia. “Karena ada razia. Dia awalnya beralasan mau ngambil jalan pintas om. Sewaktu sudah motong-motong jalan, ternyata saya dibawa ke kuburan cina di Sei Rampah,” ungkap korban kembali menangis sembari menggendong bayinya.
Setibanya di pekuburan cina, korban dipaksa pelaku turun dari atas kereta. Di sana, pelaku menarik korban ke tengah pemakaman cina yang memang jauh dari pemukiman warga. “Awalnya saya sudah menolak om. Saya sempat jerit-jerit dan menendang dia. Tapi dia terus memaksa saya,” kata korban.
Karena tak berdaya, pelaku akhirnya berhasil mencabuli korban di tengah pekuburan cina yang lokasinya sangat sepi tersebut. “Setelah kejadian itu, saya sempat putus kontak sama dia. Saya awalnya nggak mau cerita sama keluarga,” terang korban. Hampir 2 minggu berlalu, pelaku kembali muncul di sekolah korban. Kala itu, korban yang trauma sempat menghindar dan berusaha menjauhi pelaku. “Kebetulan temannya pelaku ini ada yang saya kenal om. Kawannya itu bujuk-bujuk saya,” kata korban.
Karena keluguannya, korban pun akhirnya kembali menemui pelaku. Saat itu, pelaku mengajak korban ke Pantai Klang yang berada di Sergai. “Saya dibujuk-bujuk sama kawannya pelaku om. Kata kawannya gini, udah, enggak apa-apa. Ikut kami aja. Kan ada kami,” ujar korban menirukan ucapan teman pelaku.
“Sampai di pantai Klang, saya ditinggal berdua sama pelaku om. Kawan-kawannya langsung pergi entah kemana,” ujar korban.
Kala itu, korban kembali dipaksa untuk melayani nafsu bejat pelaku. “Saya dipaksanya untuk ikut ke lokasi sepi yang ada di Pantai Klang sana om. Disitu saya diapainya lagi,” terang korban sembari mengusap air matanya.
Sejak saat itu, sikap korban pun berubah. Namun pihak keluarga belum sadar jika korban sudah berbadan dua. “Ketahuannya waktu keluarga pelaku ini datang ke rumah om. Mereka mau menyerahkan uang Rp 12 juta untuk gugurkan kandungan saya,” kata korban.
Mendengar permintaan itu, sontak keluarga korban marah. Mereka pun memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke Poldasu. “Inilah kami mau nanyak kenapa pelakunya enggak ditangkap om. Padahal saya sudah lama melaporkan kasus ini,” pungkas korban kembali menangis sembari menujukkan surat bukti Lapor LP/875/VIII/2014/SPKT II, tanggal 6 Agustus 2014. (man)
Sumber: Metro24Jam













0 comments:
Post a Comment