Liputan Terpercaya Komunitas Pewarta
Mail Instagram Pinterest RSS
Komunitas Pewarta

JERIGEN

Aku rindu adikku, ia paling suka dengan bunyi berdentum yang khas, tetapi ia tidak suka mendengar suara dentuman yang dibunyikan orang lain. maklum, adikku itu si bungsu, umurnya saja belum genap enam tahun. Ia belum berdaya untuk memberdayakan dirinya sendiri. Jadi aku rasa wajar saja kalau kami harus menyayanginya begitu pula seharusnya orang tua kami.

Ibu sedang sibuk memasak, tiga unit kompor gas menyala biru apinya. Untuk urusan memasak, Ayah-ibu tak mau menggaji pembantu tetapi kalau untuk urusan membersihkan rumah, taman, kamar mandi hingga mencuci baju-baju kami, Ayah-Ibu telah menggaji enam orang pembantu. Hari ini ibu sibuk memasak ayam goreng yang dibuat mirip “Kentucky”. Ibu membeli daging ayam itu di sebuah super mall. Kata ibu, “itu daging import punya”. Ibu pernah bilang segala sesuatu yang dari luar negeri itu “berkelas” jadi kita harus menyesuaikan diri kita dengan sesuatu yang dari luar negeri itu, sambil mata ibu menatap ke rumah tetangga kami dari jendela dapur yang terbuka. Yah, tetangga kami itu orang Bule, Ibu pernah bilang kalau mereka itu berasal dari Negara yang paling maju di dunia ini, ayah juga bilang begitu, tetapi pak Ucok, tukang bersih-bersih kamar mandi kami yang sebelumnya, pernah bilang kalau tetangga kami itu berasal dari negara yang suka menjajah dengan tangan yang tidak kelihatan. Sebelum mengatakan hal itu, lebih dari sepuluh kali pak Ucok melihat kekiri dan kekanan. Dari wajahnya aku lihat pak Ucok ketakutan sekali, sampai aku juga ikut-ikutan takut. Waktu aku memberitahukan apa yang dikatakan pak Ucok padaku, Ayah malah melotot. Seminggu kemudian pak Ucok pulang kampung dan tak pernah kembali lagi.

Ibu masih sibuk memasak, membuka bahan-bahan makanan yang semuanya berbungkus kaleng dengan tulisan yang hanya bisa dimengerti lewat kamus atau mesin penerjemah. Begitu pula dengan ayah, seharian ia berhadap-hadapan dengan komputer jinjingnya. Menyusun proposal pinjaman yang akan diserahkan kepada pendonor asing yang masih satu negara dengan tetangga kami itu. Meskipun hari ini hari minggu, tetapi orang tua kami telah dibajak oleh kesibukannya sendiri. Aku dan adikku yang umurnya belum genap enam tahun itu bermain kelereng di halaman rumah. Ketika sedang asik bermain, adikku melemparkan kelerengnya kearah gudang kami yang letakknya tepat disamping garasi mobil. Lalu ia mengejarnya. Ia mencari-cari disekitar gudang, tetapi kemudian ia berjongkok sambil memukul-mukul sesuatu di samping garasi itu. Aku memerhatikannya, sesekali terdengarku suara “dung dung dung” tiap kali adikku mengayunkan pukulannya. Berulang-ulang adikku melakukannya sampai akhirnya ia berlari kearahku dengan wajah bahagia, seperti menemukan harta karun saja pikirku. Tangannya menenteng semacam benda kotak yang kemudian kukenali sebagai Jerigen. Jerigen itu milik pak Ucok yang ketinggalan. Katanya jerigen itu adalah tempat menampung minyak lampu. Awalnya aku tidak paham apa itu minyak lampu, setelah dijelaskannya baru aku tahu kalau ternyata minyak lampu itu adalah minyak tanah, tetapi kebanyakan orang di Medan menyebutnya minyak lampu.

Adikku terus saja memukul-mukul benda itu lalu tertawa-tawa setelah menikmati bunyi “dung dung dung”-nya. Aku pernah mencoba mengambilnya dan memukul-mukulnya, memperdengarkan bunyi “dung dung dung”nya itu, tetapi kelihatannya adikku kurang bahagia, akhirnya jerigen itu kuserahkan kembali padanya agar ia bisa menikmati bunyi jerigen itu dengan merdeka, kalau adikku senang maka pasti aku juga ikut senang karena aku sayang padanya. Maklum, adikku itu si bungsu, umurnya saja belum genap enam tahun. Ia belum berdaya untuk memberdayakan dirinya sendiri. Jadi aku rasa wajar saja kalau kami harus menyayanginya begitu pula seharusnya orang tua kami.

Hampir setiap hari ia membunyikan jerigen itu, sebab ia sangat suka dengan bunyi dentuman khas jerigen itu. Satu hari, tetangga kami yang berasal dari Negara yang paling maju di dunia ini berkunjung kerumah, ingin memperbincangkan masalah proposal pinjaman yang akan diajukan ke lembaga donor yang berada di Negara asal tetangga kami itu. Waktu itu adikku sedang asik memukul-mukul jerigen di teras rumah. Dentumannya yang khas ternyata sedikit mengganggu obrolan Ayah-ibu dengan tetangga kami itu. Akhirnya ibu mulai tidak senang dengan kesenangan adikku; memukul jerigen untuk menikmati suara dentumannya yang khas. Berbeda dengan ibuku, ternyata tetangga kami yang berasal dari Negara yang paling maju di dunia itu tertarik dengan jerigen yang sering dipukul-pukul adikku itu. Mungkin mereka tertarik karena suaranya yang khas atau karena bentuknya yang unik atau karena fungsinya sebagai penyimpan minyak tanah atau memang karena rengkahan minyak tanah yang ada di jerigen itu dan jerigen-jerigen yang lain.

Akhirnya, tak jarang tetangga kami itu sering berkunjung kerumah, berbicara dengan ayah-ibu lalu menyempatkan diri bermain dengan kami. Pernah juga tetangga kami itu mengambil jerigen adik lalu memukul-mukulnya. tetangga kami jadi semakin tertarik dengan jerigen itu; aku seperti bisa melihat “tangan-tangan halus” menggapai-gapai di bola mata mereka seolah-olah ingin segera memiliki jerigen adik. Tiap kali selesai memukul-mukul jerigen dan mengembalikannya pada adik, tetangga kami itu selalu saja berujar “Jerigen ini memang berbunyi sangat indah kalau ia berisi kosong”.

Suatu hari, ketika Ayah-Ibu sedang tak berada di rumah, tetangga kami datang. Mereka bilang kalau mereka dimintai tolong oleh Ayah-Ibu untuk menjaga keamanan kami. Tetangga kami itu membawa berbungkus-bungkus permen. Seperti Ibu, Adik sangat suka permen, tetapi ia lebih suka dengan jerigennya sekarang. Itulah kenapa adik menolak untuk menukarkan jerigen itu dengan berbungkus-bungkus permen yang dibawakan tetangga kami. Alhasil, tetangga kami itu tak jadi memberikan permennya pada kami. Ketika memasukkan kembali berbungkus permen itu kedalam tasnya, tetangga kami itu mengucapkan kata “Embargo” yang kami tak begitu mengerti maknanya. Keesokan harinya, setelah selesai berbincang dengan Ayah-ibu, tetangga kami itu menghampiriku. Ia memamerkan miniatur kota dengan bangunan-bangunan pencakar langit, Super Mall, jembatan layang, Komplek-komplek rumah mewah, dll. Mereka bilang mereka akan memberikan itu asal saja aku bisa membujuk adik agar mau menyerahkan jerigennya pada mereka. Sejujurnya aku sangat suka dengan miniatur kota itu, tetapi ketika membayangkan wajah adik yang menjadi sendu karena kehilangan Jerigen kesayangannya itu, aku menolak suapan tetangga kami. Tetangga kami menjadi semakin kecewa; aku seolah-olah melihat ada ratusan cakar-cakar tajam di bola mata mereka. Sebelum pulang tetangga kami itu berujar “Well, cepat atau lambat kami pasti mendapatkan jerigen itu”. Malamnya, tiba-tiba saja Ayah-Ibu menyuruh kami berkumpul di ruang tamu. Ibu duduk di atas sofa sambil mengunyah permen yang mirip sekali dengan permen yang ditawarkan tetangga kami kemarin. Sedangkan Ayah sibuk memuji-muji miniatur kota yang juga mirip dengan miniatur kota yang ditawarkan oleh tetangga kami tadi. Ibu membuka pembicaraan dengan pertanyaan mengenai jerigen adik. Adik mulai jadi resah. Ayah ikut menimpali “kami terpaksa menarik jerigen itu. sebab telinga kita bisa terganggu kalau terus-terusan memberikan ruang untuk bunyi-bunyian dari jerigen itu. Kalau jerigen itu ditarik maka kita bisa mengalihkan subsidi ruang bunyi jerigen itu untuk bunyi-bunyi yang lain” Adik tidak setuju dan mulai protes sambil menangis tetapi Ayah-ibu tak bergeming. Ayah-ibu cuma bilang “silahkan saja protes atau menangis, paling cuma bertahan seminggu” aku juga ikut protes, menolak kebijakan Ayah-ibu, tetapi Ayah-Ibu bilang kalau aku tak punya hak untuk menolak atau menentukan kebijakan Ayah-Ibu karena aku cuma perwakilan adik dan tugasku hanya menyampaikan aspirasi adik saja bukan sebagai penentu. Aku jadi kecewa begitu pula adik. Semenjak itu, hubungan ku dengan adik jadi renggang, ku akui memang sebahagian diriku menyetujui kebijakan Ayah-ibu karena yang menderita atas kebijakan Ayah-Ibu itu bukan aku melainkan adik, tetapi masih ada sedikit bagian dari dalam diriku yang tidak menyetujui kebijakan Ayah-ibu.

Semenjak jerigen itu berpindah tangan ke tetangga sebelah kami, hidup adik menjadi begitu susah dan hambar. Ia hanya bisa murung sambil mendengarkan bunyi “dung dung dung” yang bergaung siang malam di rumah tetangga sebelah kami itu. Tak jarang pula tetangga sebelah itu bertandang ke rumah kami sambil meninting jerigen dan membunyikannya di dalam ruang tamu ketika sedang ngobrol dengan Ayah-Ibu. Akhirnya adik jatuh sakit. Hampir tiap hari adik mengigau sambil nangis menyebut-nyebut “Jerigen” tetapi Ayah-Ibu cuma berujar “silahkan saja mengigau sambil nangis, paling cuma bertahan seminggu”. Aku pernah mendengar perbincangan rahasia Ayah-Ibu; “Tak apalah. Pengorbanan itu dibutuhkan! walaupun sibungsu tak selamat, tetapi setidaknya dengan begitu kita bisa mempercantik bangunan rumah kita ini biar dilihat mewah oleh mata-mata yang memandang hingga akhirnya rumah kita ini menjadi semakin mahal, kalau sudah begitu kan orang akan bilang kalau rumah kita kaya dan banyaklah yang akan mau bertamu untuk menawar harga perabotan kita hingga akhirnya kita berdua akan ikut-ikutan kaya.”

Benar saja, akhirnya adikku tak terselamatkan. Di hari berkabung itu tetangga kami datang dengan meninting jerigen sambil terus menabuhnya, suara “dung dung dung”-nya membenam sura isak tangis yang memang tak ada. Ayah-Ibu berujar padaku “begitu indah suara itu, memang segala sesuatu yang dari luar itu berkelas, maka dari itu kita mesti melelang semua perabotan kita pada luar negeri.”

Ternyata tak hanya adik yang berpulang, banyak juga orang lain yang berpulang karena hilang jerigennya, karena tak kunjung terisi jerigennya atau karena bingung mau diisi dengan apa jerigennya. Di pemakaman ini, ku ari suara khas jerigen. Tapi ku hanya temukan hening karena suara itu telah lebur bersama derai tawa Ayah-Ibu dan tetangga di ruang tamu.[twp*]

0 comments:

Post a Comment